CIVIL ENGINEERING EBOOK
BRIDGE DECK BEHAVIOR by E C HAMBLY
POST TENSIONED CONCRETE FLOORS by S KHAN & M WILLIAMS
DESIGN OF PORTAL FRAME BUILDINS by S T WOOLCOCK, S KITIPORNCHAI & M A BRADFORD
BUILDING DESIGN AND CONSTRUCTION HANDBOOK by F S MERRIT & J T RICKETTS
PILE DESIGN AND CONSTRUCTION PRACTICE by M J TOMLINSON
ENGINEERING MECHANICS OF SOLID BY E POPOV
FATIGUE OF STRUCTURES AND MATERIALS BY J SCHIJVE
Don’t forget to visit my thread at Kaskus
Advertisement







hi there…
lam kenal sebelumnya. Saya Ertson Saragih, domisili di Papua Barat saat ini. Dulu kerja di MURINDA Jakarta. Sering liat-2 koment-2nya di blognya P’Wir. Looks like you have a very wide knowledge about Civil Engineering especially Structure Eng.
Kapan-2 boleh nanya2 yah ttg hal-2 yang berkaitan dengan Civil Engineering?
)
Thx a lot before. Nice to know You
God Bless
Halo Ertson Saragih salam kenal juga..kenal Ivan Jansen?
r-son
November 9, 2008 at 9:25 pm
Alo, salam kenal, saya aji.
Terima kasih pak donald berkenan membagikan ilmu dan e-book nya ya.
Bravo Pak !
Halo pak Aji pake salam kenal sgala pak hehehe
yosafat
November 10, 2008 at 12:02 pm
Halo Ertson Saragih salam kenal juga..kenal Ivan Jansen?
Oh gak Ivan Jansen teman saja kebetulan Saragih juga gitu
well…kalo person tsb kerja di murinda juga…hmmm..gak kenal tuh. Gabung di Murinda cuma pas Cityloft Project. Sebelumnya di WIKA – DSU I. Semuanya bagian Quality Control.
Btw, Donald ngerti konsep top-bottom (or top-down) dlm metode konstruksi suatu gedung gak? Pengen tahu neh ide dasarnya apa? prinsip kerjanya bagaimana ya? Hal-2 yang harus diperhatikan sebelum, saat dan setelah pelaksanaannya apa saja? Yang terakhir, apa metode ini sudah harus dipertimbangkan sejak tahap pre design? Maksudnya apakah metode ini mempengaruhi perhitungan structurenya?
Thx a lot sebelumnya
Lho bukannya sudah dijawab pak wiryanto http://wiryanto.wordpress.com/guestbook/#comment-14794
Prinsip dasarnya ya seperti yang dikemukakan oleh pak Wir. Metoda Top Down menjadi pilihan karena 2 alasan menurut saya:
1. Lahan tidak memungkinkan untuk melakukan galian terbuka. Biasanya di Jakarta dilakukan untuk proyek2 dimana disekeliling perencanaan galian sudah ada bangunan lain. Jadi satu2nya pilihan ya galian tertutup.
2. Galian tertutup sendiri sebetulnya seni saja tergantung pengalaman perencana sendiri namun umumnya dibagi 2 kategori :
a. Bottom Up yang paling konvensional dimana pertama2 dikerjakan dinding penahan spt sheet pile, contiguous bored pile dll baru dilakukan galiaan. Permasalahan metoda ini ya spt kata pak Wiryanto, struktur dinding penahan menjadi mewah dan kadang tidak ekonomis secara konstruksi apalagi kalau basement cukup dalam karena dinding penahan ini menahan tanah layaknya kantilever.
b. Top Down. Idenya tentu bagaimana supaya sheet pile etc menjadi lebih ekonomis. Kalau kita blajar mektek, untuk mengurangi momen yang terjadi pada dinding penahan kita support saja di atas (kebayangkan). Jadi kalau pada Bottom Up setelah sheet pile dipasang, galian langsung dilakukan terus struktur dikerjakan dari basement, lantai ground dan upper structurenya. Pada Top Down sebelum galian, lantai ground dikerjakan dahulu dengan maksud menjadi support terhadap dinding penahan atau istilah pak Wiryanto jadi strut di ujung atas sheet pile (rata2 dinding penahan ini nantinya jadi dinding basement juga). Lantai ground sendiri di support oleh king post column yang bisa dijadikan kolom permanen tapi bisa juga diganti nantinya.
Mungkin timbul pertanyaan, kalau kita sudah bangun ground floor terus galinya gimana donk?..hehe ini kelemahan metoda Top Down, menghemat dinding penahan, tapi repot saat galian. Pada metoda Top Down biasanya dibuat lubang cukup besar pada lantai ground floor supaya galian dapat dimulai dan cukup besar untuk mobilisasi alat2 berat dan truk. Kalau lubangnya dibuat ditengah2 lantai ground di praktek disebut “island method” kalau gak salah ya. Island method tuh paling enak kalau memang secara arsitektural memang ingin dibuat lubang di lantai ground jadinya nanti lubang ini bisa dibuat permanen.
Metoda Top Down sendiri tentunya bisa lebih tidak ekonomis dari Bottom Up kalau lahannya justru terlalu sempit. Dari sini kliatanlah jangan buat basement terlalu dalam kalau lahan terlalu sempit secara Top Down sulit dilakukan.
Hubungannya sama predesign ya tentu saja milihat pertimbangan2 di atas, umumnya sih dari sisi ekonomis. Dengan perhitungan struktur sendiri ya tentu saja semua perencanaan basement harus memperhatikan sequence yang sudah dikonsepkan baik bottom up dan top down. Selebihnya it is pure engineering, ada lebihnya..ada kurangnya..terakhir ada duitnya gak (UUD)
r-son
November 10, 2008 at 10:42 pm
wuaaaahhhhh….rruuaaarrr biasssa….
)
thx a lot buat pencerahannya
Sebenarnya gua msh mo nanya ttg king post column, mutu beton utk GF, apakah setelah di cor perlu diadakan semacam inclinometer, etc. But let’s keep it for a while
bener seh itu pertanyaan dah dijawab ma P’Wir. Cuma karna emang guanya yg rada-2 gak nyampe aja ilmunya makanya masih nanya lagi di sini. Setelah membaca pencerahannya Donal di sini , maka jawaban p’ Wir “kegambar” di benak gua.
Tadinya msh mo nanya lagi ke Beliau, tp dengan pertimbangan Beliaunya mungkin lg fokus ke Disertasi (katanya awal taon depan????), makanya ngeri ngeganggu. Hehehehehee….
Well….sekali lagi thx a lot buat pencerahannya.
Jangan bosen-2 yah kalo besok2 ditanya lagi
God Bless
r-son
November 12, 2008 at 10:31 pm
Salam kenal, saya sani…titip salam juga buat aji
Regard.
Salam kenal juga Sani…teman Aji kuliah ya? kenal Andreas Bobby juga gak?
SANI ADIPURA WINATA.
November 19, 2008 at 3:11 pm
nald donlot nya gmana ? ngga muncul tuh…
bisa upload ngga ???
Ivan Jansen
December 18, 2008 at 1:58 pm
nice posting nal…
http://syaifulsipil96.blogspot.com/
March 22, 2009 at 1:13 pm